Berikut ini saya sajikan transkrip terjemahan dari ceramah Guru Mulia Habib Umar bin Hafizh dalam Haul Syekh Abu Bakar bin Salim pada 14 November 2015 yang sampaikan oleh Habib Jindan bin Novel bin Jindan.

Link video: Channel Youtube Majelis Rasulullah

Screenshot_2015-11-19-04-40-03

Ceramah Habib Umar bin Hafizh

dalam Haul Syekh Abu Bakar bin Salim
14 November 2015

 

Alhamdulillah, Allah yang telah mengumpulkan kita dengan anugerah-Nya sehingga kita dapat berkumpul sama-sama untuk menjaring anugerah dan rahmat-Nya. Kita berkumpul dalam rangka mencari ampunan dari Allah taala yang luhur, semata-mata mengharap pendekatan diri kepada Allah taala, yang mana ini merupakan ajaran manusia pilihan Allah swt.

Beliau adalah manusia pilihan Nabi Besar Muhammad saw. Beliaulah Nabi Muhammad yang mengajak kita kepada amalan2 mulia ini. Beliau yang mengajak kita kepada perkara yang luhur ini. Kita digiring dengan taufik dari Allah taala hingga kita dapat berkumpul di tempat ini, orang2 yang berasal dari beragam wilayah, beragam daerah, beragam negeri.

Tujuan utama kita adalah Allah. Yang kita cari adalah ridha-Nya Allah. Itu merupakan puncak yang ada di dunia ini yang patut kita gapai sebab pencarian kepada selain Allah adalah sebuah cacat, sebuah aib, sebuah kekurangan.

Dan sungguh banyak di antara orang2 Islam di dalam kegiatan yang mereka lakukan, dalam perjalanan ataupun di dalam negeri mereka ataupun di dalam perayaan2 yang mereka lakukan, mereka berkumpul untuk selain Allah. Mereka dijalankan oleh hawa nafsu, keinginan2 pribadi, dan kepentingan2 dunia yang fana, ataupun fanatisme terhadap pribadi, kesukuan, ataupun kelompok sendiri. Mereka di situ mendengarkan ucapan orang2 yang ingin memecah belah kaum muslimin sehingga saling menuduh, saling membunuh satu sama lain

Seandainya di muka bumi tidak ada hati-hati yang tulus murni kepada Allah swt di dalam menuju dan berharap. Dan sungguh masih ada perkumpulan majelis2 yang dilaksanakan secara tulus di bawah bimbingan orang2 yang ikhlas mencari ridha Allah. Kalau bukan keberadaan majelis2 yang mulia yang tulus dilaksanakan karena Allah taala, niscaya akan berlipat ganda musibah bala bencana yang menimpa umat di dunia ini. Sebab hati2 yang ikhlas, tulus kepada Allah taala di dalam bertujuan, mereka adalah yang menerjemahkan secara hakikat makna ucapan, “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku, murni aku persembahkan bagi Allah. Tidak ada sekutu dan aku sungguh taat dan patuh kepada Allah taala serta berserah.” Inilah ringkasan daripada apa yang disodorkan oleh orang2 yang telah sunyi keinginan duniawi mereka.

Allah taala nyatakan di dalam Al-Qur’an, “Katakanlah wahai Nabi Muhammad, ‘Wahai para Ahli Kitab, marilah kita kembali kepada kalimat yang moderat antara kami dan kalian, bahwasanya kita tidak menyembah melainkan hanya kepada Allah swt tanpa menyekutukan-Nya, dan kita tidak saling mengambil Tuhan selain Allah.’” Sungguh barangsiapa yang rela mengambil sebuah ajaran selain ajaran Allah taala, selain syariat Nabi Muhammad, maka seolah2 dia mengambil Tuhan selain Allah.

Ketika difirmankan oleh Allah swt bahwasanya mereka orang2 Ahli Kitab mengangkat para ulama mereka sebagai Tuhan, berkata salah seorang sahabat yang memang mengerti dalam hal tersebut, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab yang mengangkat ulama mereka sebagai Tuhan ya Rasulullah.” Maka Rasul menjelaskan, “Bukankah mereka ulama Ahli Kitab banyak yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, dan diikuti oleh pengikutnya?”

“Iya.”

Maka dijawab, “Itulah bentuk pengangkatan mereka terhadap para ulama sebagai Tuhan. Mereka ikuti kesesatannya.”

Inilah keagungan Islam: bahwasanya tidaklah satu orang dari kita mengangkat manusia lain sebagai Tuhan. Para Nabi dan para pewaris Nabi-Nabi dari para wali2 yang besar, mereka adalah orang2 yang merendahkan diri mereka, menundukkan hati mereka, tunduk sebagai penghambaan diri mereka kepada Allah taala. Dan sesungguhnya diwajibkan oleh Allah taala terhadap umat untuk taat kepada mereka dikarenakan mereka adalah orang2 yang paling mengerti apa yang difirmankan oleh Allah taala, yang paling patuh kepada Allah taala, dan yang paling mengerti tentang syariat. Begitu pula kita diharuskan untuk mengikuti sahabat2 yang mulia serta Ahlil Bait keturunan Rasul saw yang mulia, sebab mereka adalah orang yang paling mengerti di dalam menerjemahkan jalan dan metode Rasulullah saw yang didapat dari Allah. Sebagaimana kita diharuskan untuk merujuk segala perkara kita kepada para ulama2 yang istiqomah sebab mereka adalah orang2 yang paling mengerti di dalam pemahaman dari Al Kitab dan As Sunah yang mulia.

Para Nabi, sahabat, Ahlil Bait, ulama, dan sholihin, tidak ada seorang pun dari mereka yang menyampaikan sesuatu kepada umat berdasarkan hawa nafsunya atau pemikiran pribadi dia atau akalnya pribadi, tetapi semuanya memfatwakan sesuatu berdasarkan penghambaan diri mereka yang mutlak kepada Allah taala. Allah taala telah menjelaskan tentang hakikat ini. Allah taala firmankan di dalam Al Qur’an, “Manakala didatangkan ayat2 Allah swt, maka orang2 yang mengikuti hawa nafsunya berkata, ‘Coba ganti dengan ayat yang lain, selain dari perkara ini.” Mereka ingin mencari dengan hawa dan akalnya. Mereka berkata, “Berikan kepada kita sesuatu yang cocok bagi akal kita. Tolong hargai kami di dalam beberapa keadaan pribadi kami. Bawakan yang lain sebab kami tidak cocok dengan yang ini.”

Maka Allah swt tegaskan, “Katakan wahai Nabi Muhammad, ‘Saya bawa ini semua bukan dari nafsu saya, tetapi saya hanya mengikuti apa yang diwahyukan Allah atas saya.” Dan Allah taala berfirman di dalam ayat yang lain, tentang seorang nabi yang mengatakan, “Aku kuatir, kalau aku melanggar apa yang diwahyukan oleh Allah taala, niscaya Allah taala turunkan adzab terhadap diriku.”

Dan di dalam pemahaman yang agung ini, apa yang diceritakan oleh Allah taala tentang Ratu Balqis tatkala dia masuk Islam dan beriman dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Sulaiman, dia berkata, “Ya Allah sesungguhnya aku beriman bersama Nabi Sulaiman.” Beriman kepada siapa? Kepada Allah taala, bersama Nabi Sulaiman. Walaupun dia mengenal Allah dari tangan Nabi Sulaiman, dia bersama Nabi Sulaiman menghambakan dirinya kepada Allah taala Yang Maha Esa. Ini adalah kemerdekaan, kebebasan yang dibawakan di dalam agama Islam, tidak ada di dalam agama2 yang lain.

Dalam aturan2 selain daripada agama Islam yang ada di dunia ini dari zaman dulu hingga zaman sekarang, mereka itu terbagi menjadi dua kelompok. Antara yang menaati dan yang ditaati, ataupun yang meletakkan aturan ataupun yang harus patuh kepada aturan tersebut. Dan mereka terbagi atas kasta2 tertentu, yang mana kasta yang di bawah harus taat kepada yang di atas sesuai dengan kemaslahatan ataupun kepentingan pribadi dari orang yang ada di atasnya dia, yang mana ini merupakan bentuk penghambaan mereka atau pengangkatan tuhan terhadap apa yang ada di atasnya.

Dan sungguh sesuatu yang harus bagi orang yang mengerti tentang hakikat Islam ini untuk mengajak hamba2 Allah swt agar mereka tidak mengangkat tuhan selain Allah swt dan bersama-sama menghambakan diri mereka kepada Allah swt Yang Maha Esa. Seandainya mereka enggan untuk menghambakan diri mereka secara totalitas kepada Allah swt, maka kita sampaikan tentang ajaran Allah swt: Bila mereka berpaling, persaksikanlah bahwasanya kita adalah kaum muslimun yang berserah diri kepada Allah swt sepenuhnya. Yang mau beriman, silakan dia beriman. Yang mau tidak beriman, silakan dia menjadi kufur. “Tidak ada paksaan di dalam agama,” firman Allah swt, “sebab sungguh kebenaran telah menjadi nyata.”

Kita tidak memaksakan sesuatu di dalam agama Allah swt. Kita tidak memaksakan daripada amanat sebab ini adalah amanat dari Allah swt yang harus mereka laksanakan satu sama lain. Maka persaksikanlah kita orang yang sepenuh hati menyerah, tunduk patuh, menghamba kepada Allah taala.

Apabila mereka mengklaim kebebasan di dalam beragama kemudian ketika disodorkan tentang agama Islam yang mengajak kepada kemerdekaan yang hakiki, mereka berkata, “Kita masih punya aturan yang lain di atas aturan Islam.” Maka ketahuilah kita tidak menerima aturan melebihi aturan Al-Hayyul Qoyyum swt sebagai aturan yang tertinggi.

Dan juga di dalam makna yang disampaikan daripada tujuan yang murni untuk Allah swt, shohibul haul Al-Imam Syekh Abu Bakar bin Salim di dalam tawadhunya dan sikapnya kepada Allah swt, yang mana beliau memiliki ketenaran yang sangat luar biasa, dalam pribadinya mengatakan, “Dahulu aku selalu meminta kepada Allah taala agar aku disembunyikan. Tidak perlu banyak orang lain tahu. Namun Allah taala populerkan aku. Bukan sesuatu yang kusukai, bukan sesuatu yang kucari, tapi Allah taala memaksa aku untuk menjadi populer dan diberikan ketenaran oleh Allah swt. Dan sesungguhnya walaupun aku ini populer dan tenar, apa yang Allah taala anugerahkan kepadaku pada hakikatnya itu masih jauh lebih besar yang ditutupi oleh Allah swt.”

Dan di akhir umur beliau, Syekh Abu Bakar bin Salim ketika pergi ziarah ke makam Nabi Hud dikerubungi oleh orang banyak yang ingin mengambil berkah dari beliau, ribuan orang, dan beliau pun terharu dan menangis, dengan tawadhu dia berkata dan membaca firman Allah taala yang berbunyi, “Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang dianugerahkan nikmat banyak dari Allah taala.”

Dan disebutkan Al-Imam Syekh Abu Bakar bin Salim lima belas tahun terakhir dari umur beliau sebelum beliau wafat, itu selama lima belas tahun tidaklah beliau duduk melainkan duduk seperti duduknya orang yang tasyahud akhir. Sampai murid2 dan kawan2nya berkata, “Duduklah seperti biasa. Engkau letih, engkau tidak kuat duduk seperti itu terlalu lama.” Dia berkata, “Ini adalah duduknya seorang hamba, seorang budak, di hadapan Majikannya.”

Beliau menjamu tamu di masa hidup beliau, setiap harinya dia sediakan untuk tamu antara 500 porsi hingga 700 porsi sampai 1.000 porsi makanan per harinya. Ini merupakan amalan, perbuatan, yang belum tentu dilaksanakan oleh sebuah negara secara rutin, ataupun sebuah yayasan, ataupun sebuah partai atau kelompok tertentu secara rutin amalan ini. Dan beliau menjalankan amalan sosial ini secara sendirian, secara pribadi beliau laksanakan.

Beliau masuk sendiri ke dapur, dan berkata kepada pembantu2 juru masak beliau, “Saat kalian membuat potongan roti jangan terlalu besar, tipiskan sedikit, jangan seperti rotinya para raja. Saya hanya seorang hamba, anaknya Salim bin Abdullah.” Dengan tawadhu dia nyatakan ucapan semacam ini.

Namun kalau kegiatan sosial semacam ini dilaksanakan oleh suatu negara, suatu lembaga, suatu partai, atau pun yayasan2 yang bertujuan duniawi, mereka pasti ingin amalan ini diperkenalkan ataupun juga dimasukkan ke dalam dunia maya, ataupun ke dalam internet, ataupun ke media sosial lainnya, ataupun ke televisi dan radio, untuk mencari popularitas, mencari selain Allah taala.

Disebutkan bahwasanya ada 200 rumah tangga di kota Madinah yang mana nafkah mereka itu setiap hari tidak tahu didapatkan dari mana, setiap bulannya mereka dapatkan nafkah, tiap kali sudah mau habis datang lagi nafkah berikutnya, terus selama bertahun-tahun. Mereka tidak tahu, ini sumbernya dari mana, siapa yang memberikan nafkah kepada 200 rumah tersebut. Mereka baru merasa kehilangan tatkala wafatnya Al Imam Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Apabila pembantunya Imam Ali Zainal Abidin berkata kepada beliau, “Biar saya yang pikulkan sedekahmu ini yang ingin engkau berikan ke rumah2 tersebut,” dia jawab, “Kamu besok hari kiamat mau memikul dosa saya? Tentu saja kamu tidak berani memikul dosa saya, jadi biarkan saya yang memikul amal baik saya sendiri.”

Wahai orang2 yang berkumpul di dalam acara yang mulia ini, semua kisah yang dikumandangkan di tengah2 kita mengajak kepada kita tentang pentingnya hakikat amanat tersebut. Amanat yang Allah taala percayakan kepada kita sekalian, yang mana kita semua kelak akan menghadap kepada Allah taala untuk memberikan pertanggungjawaban.

Juru audit yang ada di dunia yang mengaudit transaksi yang dilakukan oleh orang2 tertentu, itu orang2 tersebut mereka takut kepada juru audit, kepada orang2 yang mengaudit harta dan transaksi mereka, kuatir kalau ada kebocoran ataupun di bisa dipegang dikarenakan korupsi dan lain sebagainya. Dia takut dan mencari cara agar dapat lolos daripada auditor2 tersebut. Akan tetapi bagaimana kita akan lolos dari perhitungan Allah swt manakala kita mengkhianati amanat yang Allah taala percayakan dan pikulkan kepada kita.

Di hari kiamat tersebut, orang yang zholim dia akan ketakutan. Sambil menggigit jari jemari dan tangan ia berkata, “Andai aku di dunia dahulu ikut Rasul, menempuh jalan Rasul.” Hari kiamat tersebut, di mana orang-orang yang zholim, orang2 yang kafir, yang tidak beriman, yang berkhianat, mereka berharap andaikan mereka dijadikan debu, diratakan dengan tanah hingga mereka tidak menjadi nampak dan tidak dituntut dengan tuntutan amanat.

Apabila kita berbicara tentang amanat dari Allah, kalian saat ini setiap individu dari kalian memikul amanat tersebut. Mata kalian adalah titipan dan amanat dari Allah. Dan kelak kalian akan kembali untuk mempertanggungjawabkan mata tersebut kepada Pencipta yang memberikan dan menitipkannya kepada kalian. Dan kelak Allah taala akan bertanya kepada kalian, “Apa yang kalian lakukan dengan mata yang Aku titipkan?” Allah taala akan bertanya, “Engkau pakai untuk apa matamu?”

Dan manakala engkau kembalikan mata yang dititipkan oleh Allah taala dalam keadaan telah berlumuran dosa, berlumuran hal2 yang haram, memandang aurat, memandang kepada hal yang diharamkan oleh Allah taala, memandang muslim lain dengan pandangan yang meremehkan, yang menghinakan, maka engkau telah berkhianat, mengkhianati amanat yang dititipkan oleh Allah taala. Allah taala menyerahkan kepadamu mata ini dalam keadaan bersih, maka kembalikan mata itu kepada Allah dalam keadaan bersih pula dari kemaksiatan.

Apabila engkau kembalikan mata itu kepada Allah taala dalam keadaan bersih, dalam keadaan baik, selamat dari kemaksiatan, maka Allah taala akan izinkan mata itu untuk melihat wajah manusia2 yang mulia, dan manusia yang paling mulia Nabi Muhammad saw untuk engkau pandang besok di hari kiamat di tempat yang aman.

Allah taala menitipkan telinga, pendengaran. Ini merupakan amanat dari Allah. Jangan kalian gunakan telinga itu untuk menguping pembicaraan suatu kaum, yang mana mereka tidak ingin didengar pembicaraannya, kalian gunakan untuk menguping dan memata-matai. Sebab barangsiapa yang menggunakan telinganya untuk yang haram, maka kelak telinganya akan dituang dengan logam panas di hari kiamat. Jangan engkau pakai telingamu untuk mendengar gosip atau pun untuk mendengar namimah, adu domba, ataupun kita pakai telinga untuk mendengar alat musik yang diharamkan oleh Allah. Tapi pakailah untuk mendengar firman Allah dan ucapan Rasulullah. Dan dengarlah apa yang ada di kalangan masyarakat untuk engkau memberikan manfaat kepada mereka, menolong dan membantu mereka. Allah taala telah memberikan telinga ini kepada kalian dalam keadaan mulia, dalam keadaan baik, dalam keadaan bersih. Kembalikan kepada Allah dalam keadaan bersih dari maksiat. Sebab kalau kalian kembalikan telinga ini dalam keadaan bersih kepada Allah taala, maka Allah taala akan memperdengarkan kepada kalian besok di hari kiamat hal2 yang indah pula, dan akan memperdengarkan kepada kalian salam dari malaikat, dan akan memperdengarkan kepada kalian ucapan para Nabi dan wali2. Namun barangsiapa yang diberikan telinga ini dia kotori dengan kemaksiatan, dikembalikan dalam keadaan ternoda, kotor telinga itu, maka kira2 apa yang akan dia dapat besok di hari kiamat? Sungguh telinga itu akan dimasukkan ke dalam tingkatan2 jahannam besok di dalam api neraka. Naudzu billah.

Allah taala menitipkan lidah, menitipkan lisan. Ini merupakan amanat dari Allah. Allah taala menitipkan perut. Ini adalah amanat pula dari Allah. Kemaluan, tangan dan kaki kalian titipan dari Allah, amanat dari Allah. Allah taala titipkan ini semua dalam keadaan bersih, suci, mulia, maka kembalikan dalam keadaan bersih, suci dari kemaksiatan besok pada hari kiamat.

Dan Al Imam Ali Zainal Abidin beliau menceritakan di dalam munajatnya kepada Allah swt di dalam proses pengembalian amanat2 anggota tubuh ini besok di hari kiamat. Dia, Al Imam Ali Zainal Abidin, berkata dalam doanya, “Ya Allah Yang Maha Dermawan. Apakah besok hari kiamat Engkau akan membelenggu tangan ke lehernya, telapak tangan yang pernah diulurkan kepadamu berdoa dan mengemis? Sungguh kami telah menjaga amanat tangan ini dengan kami menggunakannya untuk berdoa, mengemis kepadamu siang dan malam dalam doa dan dzikir, apakah esok hari kiamat Engkau akan belenggu tangan ini di batas leher dan pundak kami? Tangan ini aku jaga amanatnya dengan aku gunakan siang dan malam sebagai tumpuan saat aku rukuk dan sujud.” Maka orang yang meninggalkan sholat, amanat apa yang ia jalankan?

Di dalam hadits disebutkan, “Manakala seseorang meninggalkan sholat, satu sholat fardhu, maka ditulis namanya di pintu neraka, Fulan bin Fulan harus masuk neraka melalui pintu ini.” Dan semua itu anggota tubuh kita sucikan dengan bertaubat yang sepenuhnya kepada Allah taala. Diriwayatkan barangsiapa yang menjaga sholat lima waktu berjamaah, dia jaga seumur hidupnya, maka dia telah memenuhi lautan dan daratan dengan amal baik dan pahala.

Imam Ali Zainal Abidin dalam munajatnya berkata, “Ya Allah, apakah kaki yang pernah digunakan untuk berjalan mencari ridha-Mu akan Engkau belenggu dan akan Engkau ikat dengan besi-besi jahannam?”

Ya Allah sesungguhnya kami yang berkumpul di sini, kami berjalan ke mari dengan kaki-kaki yang semata-mata mencari ridha-Mu. Maka jangan Engkau ikat di neraka dengan rantai kaki ini kelak, Ya Arhamar Rahimin. Ya Allah sesungguhnya kaki ini keluar dari rumahnya, berjalan ke tempat ini, semata-mata karena ingin anugerah dan pemberian-Mu. Ini dapat berjalan karena izin, taufik dan bimbingan dari-Mu, bukan karena kebaikan yang ada pada diri kami.

Dan dengan prasangka baik kepada Allah taala, beliau Imam Ali Zainal Abidin berkata, “Ya Rabb, apakah mungkin Engkau akan memasukkan ke dalam api neraka jahannam dalam tingkatan2 jahannam, telinga yang dulu merasa lezat ketika dikumandangkan ucapan dan firman-Mu. Apakah Engkau akan membuat telinga ini tuli di dalam neraka jahannam dan Engkau masukan dan bakar di situ? Tidak mungkin.” Sungguh telinga yang celaka adalah telinga yang kabur dari suara Al-Quran, telinga yang lebih memilih suara nyanyian, lebih memilih suara gosip, suara ghibah, ataupun suara yang diharamkan oleh Allah taala.

Dan juga beliau dalam doanya, sambil merenung tentang hari akhir, dia berkata, “Ya Allah, apakah mungkin Engkau akan memasukkan ke dalam api neraka, mata yang dulu di dunia menangis karena takut kepada Engkau? Menangis karena takut terhadap hukuman-Mu, karena takut akan perhitungan di hari kiamat. Dan dia pun bersumpah, “Ya Allah demi keagungan-Mu. Sungguh tidaklah telinga ini mendengar hingga ia beriman dan percaya kepada firman-Mu. Dan tidaklah mata ini menangis hingga ia merasa takut kepada Engkau baru ia menangis. Dan tidaklah suara ini merintih melainkan sebelumnya ia telah terlebih dahulu khusyuk kepadamu. Dan tidaklah lidah ini tergerak dalam beristighfar memohon ampunan-Mu melainkan setelah terlebih dahulu dia merasa menyesal dan takut kepada-Mu.”

Beliau mengatakan, “Ya Allah, Engkau telah memuliakan kami dengan iman, Engkau memuliakan kami dengan percaya kepada ayat-ayat-Mu. Walaupun amalan kami jauh daripada hakikat keimanan, namun Engkau telah memuliakan kami dengan hati yang beriman. Maka bantulah kami dengan taufik-Mu, dengan dijaga anggota tubuh kami dari kemaksiatan.”

Dan kita semua berdoa kepada Allah taala sebagaimana doanya para wali tersebut. Wahai Allah yang telah memuliakan kami dengan iman, walaupun amalan kami jauh daripada hakikat keimanan, bantulah kami dari-Mu ya Allah di saat yang mulia, yang agung ini, dalam rangka haul Syekh Abu Bakar bin Salim, bantulah kami dengan pembentengan, penjagaan diri kami dari maksiat. Bantulah kami dari-Mu ya Allah di saat yang mulia ini, di lapangan yang mulia ini dengan Engkau jaga amanat yang Engkau percayakan kepada kami. Dan manakala kemaksiatan telah menyelimuti anggota tubuh kami maka bersihkanlah anggota tubuh kami dari kemaksiatan dan ampunkan, sehingga tidak seorang pun dari kami yang meninggal dunia dan menghadap kepada Engkau wahai Allah Yang Maha Mulia, melainkan anggota tubuhnya Engkau telah sucikan dan Engkau muliakan, bersama orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan telah suci dan menjadi baik keadaan mereka. Malaikat-malaikan berkata kepada orang yang wafat tersebut, “Selamat atas kalian. Kalian telah menjadi baik dan luhur.”

Ya Allah, jadikanlah kami bersama mereka, wahai Yang Maha Pemberi. Manakala Allah taala melihat kesungguhan di dalam hati untuk menjaga anggota tubuh kita di dalam sisa hidup kita, maka Allah taala akan membukakan bagi kita pintu taufik.

Perkumpulan kita saat ini adalah merupakan kita memperbarui hubungan kita kepada Allah swt. Maka hendaknya kita menjaga haknya amanat dengan sebaik-baiknya. Dan jangan kita terpengaruh oleh unsur-unsur yang digerakkan oleh setan-setan manusia ataupun setan-setan siluman yang ingin membuat kita menyimpang dari ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan hendaknya kita saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan waspadailah diri kalian, hati kalian, jangan sampai mencintai selain Allah dan Rasul-Nya.

Ya Allah, berikan hakikat kepada kami, masukkan hakikat di dalam hati kami, kecintaan kepada Engkau di dalam hati kami dan hati orang-orang yang mendengarkan acara ini. Sebab ya Allah kami berkumpul semata-mata sebagai bentuk pembelaan kami kepada Engkau, kepada syariat-Mu, kepada Rasul-Mu. Dan kumpulkanlah kami di dalam barisan orang-orang yang Engkau berikan taufik.

Ya Allah, hidupkan kami dalam keadaan bersyukur, wafatkanlah kami dalam keadaaan muslimin, dikumpulkan hari kiamat bersama orang-orang yang aman, di dalam kelompok orang-orang yang istimewa. Dengan berkat kemuliaan Rasul, anugerahkan kepada qobul dan anugerahkan kepada kami diijabah permintaan kami. Ampuni dan terima doa kami.

Ya Allah, terimalah doa kami. Anugerah-Mu sangat luas. Semua perlakuan-Mu baik. Dan kami memiliki cita-cita yang besar pada-Mu. Maka anugerahkan kepada kami yang …….

Ya Allah, sungguh kami tercekik akibat perbuatan kami, dari dosa kami yang tidak sanggup kami pikul lagi. Maka lepaskan belenggu kami. Orang-orang yang telah tergadaikan akibat dosanya. Ampuni semua dosa. Ampuni semua dosa. Ampuni semua dosa, yang besar maupun yang kecil, yang awal maupun yang akhir, yang zhohir maupun yang batin. Jangan sisakan sedikit pun dosa di dalam lembaran amal kami.

Ya Allah. Ya Allah. Ya Allah. Ampuni semua dosa. Tutup semua kesalahan. Jangan permalukan satu pun dari kami di dunia dan di akhirat. Dan juga singkaplah segala kesulitan. Singkaplah segala kesulitan. Sebab manusia di zaman sekarang mencari solusi untuk menyingkap kesulitan kepada selain Engkau, maka kami hanya mencari solusi dari-Mu. Maka singkaplah kesulitan dari kami. Dan juga jagalah kami dari gangguan para pengganggu. Dan masukkan kami dalam benteng-Mu yang kokoh. Sembuhkan yang sakit. Dan juga berikan ‘afiah kepada yang ditimpa bala’. Dan perbaiki zhohir dan batin kami. Perbaikilah perihal agama kami yang merupakan perkara pokok dan perbaiki perkara dunia kami yang merupakan sebab penghidupan. Dan perbaiki perkara akhiran kami yang ke sanalah kami kembali. Dan jadikan segala kehidupan ini membuat kami pertambahan di dalam kebaikan. Dan juga jadikan kematian sebagai tempat istirahat kami dari keburukan. Dan tutup usia kami dengan husnul khotimah ketika datang saat kematian dan datang saat wafat kami dan bertambah keringat kematian di kening kami.

Jadikan saat ini saat Engkau kabulkan doa. Hadirkan di saat ini ruh Nabi Muhammad. Dan talqinkan kepada kami di saat kematian kalimat Laa ilaaha illallah, Wahai Yang Maha Penyayang. Dan yang telah wafat di tahun kami yang baru kami lalui, ampuni semua dosa-dosa mereka. Dan lipat gandakan keberkahan bagi Sayyid Muhsin dan semua orang-orang yang punya andil dalam terlaksananya acara ini. Dan berikan kepada mereka keikhlasan, kesungguhan dan taufik. Dan perpadukanlah hati mereka dan hati kami semua dan hati kaum muslimin dalam amalan yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Dan berikan keberkahan di majelis kami dengan berkat kehadiran Syekh Abu Bakar bin Salim Al-Habib Hasan. Dan jadikan kehadiran Al-Habib Hasan di tengah-tengah kita sebagai kunci anugerah dan pengampunan dan pemberian-Mu, dan sebab untuk anugerah yang luas yang Kau bukakan bagi hamba. Dan panjangkan umur beliau dalam kesehatan dan taufik. Dan capaikan apa yang Engkau cita-citakan dalam kebaikan. Harapan beliau, berikanlah dalam diri, keluarga dan anak beliau, bagi diri beliau dan kaum muslimin.

Ya Arhamar Rahimin, jangan sisakan satu pun dari yang hadir melainkan Engkau terima dia dan kabulkan. Kami meminta kepadamu ya Allah al-qobuul. Dan berikanlah semua harapan dan permintaan kami, bagi kami dan bagi seluruh umat.

Mintalah kepada Allah. Serulah bersama-sama, “Ya Allah!” Berserulah dengan jiwa, raga, hati kalian, “Ya Allah!” Dengan arwah kalian, berserulan, “Ya Allah!” Dengan sanubari kalian serulah, “Ya Allah!” Dengan lisan kalian serulah, “Ya Allah!” Dengan keseluruhan dan totalitas kalian serulah, “Ya Allah!”

Kalian pada hari ini menyeru dan memanggil nama Allah. Esok kalian akan berjumpa dengan Allah. Ketika kalian memperbagus niat kalian dan memperbagus panggilan kalian kepada Allah, niscaya Allah akan perbagus perjumpaan-Nya dengan kalian.

Dan inilah ucapan penghuni surga yang berkata, “Dahulu kami semasa di dunia senantiasa memanggil dan menyeru Allah. Maka di akhirat Allah taala memberikan anugerah kepada kami dan menjaga kami dari azab. Dahulu kami di dunia memanggil Allah. Sesungguhnya Allah taala Maha Pemberi Kebaikan.”

Ya Allah Yang Maha Pengasih, Penyayang, selamatkan kami dari adzab yang pedih. Sesungguhnya kaum muslim di Indonesia dan di berbagai tempat di penjuru dunia dirundung dengan bala’, musibah, maka singkaplah bala’ dan musibah. Berikan pertolongan kepada umat Islam. Muliakan umat Islam dengan agama-Mu dan muliakanlah agama-Mu. Perkuat dengan keberadaan kami di dalamnya.

Dan pandanglah seluruh kaum muslimin di penjuru dunia yang barat dan timur yang dipermainkan oleh tangan-tangan kekafiran hingga mereka kaum muslimin saling membunuh, saling mencabik-cabik satu sama lain. Dan juga merusak persaudaraan mereka. Yang merusak dan membuat cacat kekuatannya. Mencabik-cabik persatuan mereka untuk menghancurkan kemuliaan mereka dan peninggalan yang mereka dapat dari Nabi mereka. Dan mereka semuanya berharap agar diberikan kebaikan dan penjagaan dari-Mu ya Allah. Apabila bala’ dan musibah besar, maka harapan kami semua pertolongan-Mu adalah semakin besar pula. Dan gantikanlah kesulitan dengan kemudahan. Dan tinggikanlah bendera Nabi-Mu di seluruh penjuru dunia. Dan wujudkan janji-Mu kepada Nabi-Mu. Dan apa yang Kau janjikan kepada kami melalui lisan Nabi Muhammad. Sesungguhnya Engkau tidak akan ingkar terhadap janji.

Dan apa pun yang terjadi di kalangan umat Islam saat ini, yang panjang umur di antara kalian pasti kelak akan melihat Islam berjaya di seluruh penjuru dunia. Sesungguhnya Allah tidak ingkar janji.

Dan jadilah kalian sebagai pembela-pembela Allah dan Rasul-Nya, bersama para hamba-Nya yang sholih. Takwalah kalian kepada Allah bersama orang sholihin. Semoga Allah menerima kita semua di dalam barisan mereka. Semoga tidak seorang pun yang bangkit dari majelis ini melainkan telah meraih pandangan rahmat Allah. Dan marilah kita perbaharui janji setia kita kepada Allah di dalam acara haul Syekh Abu Bakar bin Salim, di tangan Al-Habib Hasan, dan kita perbaharui janji setia kita kepada Allah taala di tangan Syekh Abu Bakar bin Salim kalimat Laa ilaaha illallah. Dan kita dengarkan beliau mentalqinkan kepada kita kalimat Laa ilaaha illallah dan kita ikuti setelah ucapan darinya, sebagai bentuk pembaharuan kita terhadap janji setia kita kepada Allah, dalam rangka mengemis kepada Allah taala agar Allah taala anugerahkan kepada kita kesetiaan hingga akhir hayat kita.

(Pembacaan talqin, al-fatihah, dsb)

Selesai

=============================

Saya berusaha sebisa mungkin membuat transkrip yang tepat. Apabila ada kekeliruan mohon diberitahukan.