Cara bersyukur itu sederhana. Lihat apa yang ada di diri kita, lalu ingat-ingat kembali saat kita lagi nggak dapetin kondisi itu. Misalnya kita baru meminum segelas air putih. Kalau saat itu kita sadar, pernah suatu ketika kita dalam perjalanan jauh, siang hari bolong, nggak ada satu pun penjual minuman di sekitar kita, maka kita juga akan sadar bahwa air putih yang lagi kita minum adalah nikmat yang sangat besar.

Kalau misalnya kita nggak punya rujukan ‘kondisi jelek’ kayak gitu di masa lalu, kita bisa cari rujukan pada orang-orang di sekitar kita. Cerpen “SMS Kak Hanto” di bawah ini gw tulis pada akhir tahun 2009 saat teringat dengan sebuah stiker yang tertempel di pintu kamar tante gw dahulu kala. Pesan di stiker itu bertemakan rasa syukur terhadap apa yang sedang kita nikmati namun kerap tidak kita sadari. Saat kecil gw berulang kali membaca isi stiker itu dengan terpana: betapa keren orang yang membuatnya. Bagaimana bunyi tulisan di stiker itu….akan gw tulis di bagian akhir post ini supaya nggak serta-merta ngebocorin isi cerpennya.

 

SMS Kak Hanto

Cerpen oleh: Agus Dwi Putra

“Gimana bisa menang kalau main basketnya pakai sepatu cats, Kaak…”

bgMida melafalkan bunyi SMSnya keras-keras. Ia sengaja melakukan itu supaya terdengar juga oleh papanya yang sedang minum kopi di depan.

Menang kalah itu biasa, Mid. Kalau latihan terus, suatu hari pasti kamu juara, balas Kak Hanto, juga lewat SMS.

Mida tersenyum. Lagi-lagi ia terkesima dengan cara Kak Hanto membesarkan hatinya.

Yup! Someday, Kak… jawabnya segera, kemudian meletakkan handphone di atas meja. Suara gemerincing terdengar saat dua buah replika bola basket yang menggantung di ujung ponselnya saling beradu. Ia hendak masuk ke kamar untuk leyeh-leyeh  lagi di atas kasur.

Biasanya, setiap Minggu pagi ia pergi latihan. Memanggul tas sporty ungu muda sambil mendribel bola dengan tangan kiri dan menenteng botol air mineral di tangan kanan. Kecuali hari hujan, berlatih basket bersama teman-teman pada hari Minggu adalah kegiatan yang paling menyenangkan baginya.

Mida melihat jam. Pukul tujuh kurang sepuluh. Pelatih pasti sudah memulai latihan. Lapangan juga pastilah telah riuh oleh hentakan bola, teriakan-teriakan pemompa semangat, dan suara ring yang berderak setiap kali ada pemain yang mencoba melakukan shooting. Tapi Mida enggan datang lagi. Sejak kekalahan tempo hari, ia merasa kehilangan semangat dan tidak siap untuk bermain kembali.

“Lho, Mida nggak latihan hari ini?” tanya ibunya yang menghampirinya saat mendapati dirinya masih berada di kamar.

Mida menggeleng. “Mida malas, Ma. Nggak ada sepatu, nggak akan maksimal.”

“Sepatu kok jadi alasan. Memang sepatu yang lama mana?”

“Yah, Mama! Sepatu yang itu udah rusak. Belinya juga kan udah lama. Makanya, dari minggu lalu aku minta Papa beliin, buat ikut turnamen, tapi nggak dikasih.”

“Akhirnya kalah deh,” tambahnya.

“Iya, tapi sepatu yang lain kan banyak.”

Wajah Mida memberengut. “Pokoknya Mida kapok main pakai selain sepatu basket. Malah bikin malu di lapangan.”

Melihat mimik wajah ibunya yang seketika berubah murung, Mida jadi menyesal telah berkata demikian. Harusnya tadi ia bilang saja sedang tidak enak badan, pikirnya.

“Itu kertas-kertas apa, Ma?” ujarnya berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Ini?”

Ketika ibunya menunjukkan kertas-kertas tersebut, barulah tampak kalau itu adalah tagihan rekening telepon dan cicilan mobil papanya yang datang diantarkan kurir kemarin.

“Mama mau kasih ke papa, tetapi tidak tega.”

“Kok tidak tega? Biasanya juga kan papa yang bayar?” tanya Mida heran.

Wajah ibunya murung lagi, seperti langit-langit di kamar yang semakin keruh warnanya.

“Sini, mama ceritakan.”

***

Mida menghabiskan sisa hari itu di dalam kamar saja. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mendengarkan siaran radio sambil chatting, tapi tidak juga berhasil. Untunglah, malam itu Kak Hanto masih membalas SMS-SMSnya. Berarti ia belum hendak tidur, sehingga Mida mempunyai teman mengobrol yang dapat membuatnya sedikit terhibur.

Kak, aku sedih, demikian Mida mengetik bunyi SMS berikutnya.

Kenapa?—balas Kak Hanto.

Rupanya papa sudah tiga minggu tidak bekerjaL

Sabar ya, Mida. Kamu nggak boleh ikut-ikutan pusing—jawab Kak Hanto setelah beberapa lama.

Iya. Ibuku baru bilang tadi pagi. Tahu begitu, aku nggak akan merongrong minta sepatu basket baru deh.

Ya, ya, Kakak ngerti

Kak, aku telpon Kakak boleh nggak? Sekali ini boleh ya…

Lama tak ada balasan. Ia pun meletakkan handphone-nya ke atas bantal lalu bergegas menuju balkon. Ia ingin memandangi bulan sabit yang bergantung di langit. Tenang sekali rasanya berada di sana, bersama awan yang berarak hingga membentuk hamparan putih yang begitu indah.

Sekelebat angin menyapu keningnya, dan entah kenapa ia tergerak untuk memejamkan kedua mata seraya menarik napas dalam-dalam. Kini yang muncul di dalam benaknya adalah wajah Kak Hanto. Bukan wajah yang sebenarnya, karena ia belum pernah bertemu secara langsung dengannya. Yang tergambar di sana hanyalah hasil terkaan Mida selama ini. Kak Hanto yang baik, yang selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan keluh-kesahnya meski hanya lewat SMS.

Dengan mata yang masih terpejam, pikirannya menelusuri kembali awal perkenalan dirinya dengan Kak Hanto. Ketika itu, ia menerima SMS yang salah terkirim. Isinya berupa pertanyaan bagaimana rute menuju Taman Ismail Marzuki. Meskipun tahu itu adalah SMS nyasar, Mida memberikan informasi yang ditanyakan. Keesokan harinya barulah pengirim itu menyadari kalau ia salah menujukan SMS-nya.

Maka ia pun langsung mengirim pesan maaf sekaligus memperkenalkan diri sebagai Hanto, mahasiwa pemain saksofon yang ketika itu kebingungan mencari lokasi Taman Ismail Marzuki, tempatnya akan mengiringi sebuah pementasan drama.

Dalam penilaian Mida, Kak Hanto terbilang unik. Sampai hari itu Mida tidak pernah menerima telepon darinya. Kalau hendak mengobrol pastilah lewat SMS. Apabila Mida yang terlebih dahulu menelepon, tidak pernah ada jawaban, kecuali SMS yang terkirim berikutnya dengan bunyi, “Maaf, Mid, Kak Hanto tidak bisa mengangkat. Lewat SMS saja.”

Seperti juga malam itu. Mida memeriksa ponselnya ketika kembali lagi ke dalam kamar. Sudah ada satu pesan yang dikirimkan hampir setengah jam yang lalu. Lewat SMS saja ya. Kak Hanto tidak bisa mengangkat, begitu bunyinya.

Mida segera mengirim pesan balasan yang agak panjang. Nggak apa kok, Kak. Maaf juga balasnya lama, tadi Mida habis dari balkon. Bulan sabitnya bagus deh. Mida tadi cuma mau bilang, Mida mau berhenti main basket. Desperate banget rasanya main pakai sepatu cats, sementara minta beliin sama ortu juga nggak mungkin. Makasih ya udah mau dengar cerita Mida. Met istirahat, Kak

Mau datang ke pertunjukan Kak Hanto? Minggu depan. Di tempat yang kamu tunjukin persis sebulan yang lalu. Ingat?—satu pesan masuk lagi.

“Taman Ismail Marzuki,” gumam Mida. Ingat dong. Benar nih? balasnya.

Benar. Kalau mau nanti tiketnya Kak Hanto kirimkan.

***

Gedung pementasan cukup ramai. Pengunjung dengan tertib memasuki ruang pementasan. Mida menunjukkan tiket masuk kepada panitia lalu segera mencari tempat duduk yang kosong.

Pertunjukan seperti ini agak asing baginya. Ia ingat, hanya sekali dirinya pernah mendatangi acara semacam ini. Yaitu saat papanya mengajaknya menonton pementasan Bawang Merah Bawang Putih ketika ia masih SD.

Tetapi Mida merasa senang hari ini. Selain bertemu langsung dengan Kak Hanto, ia dapat mengalihkan diri dari perasaan gelisah sejak kehilangan semangat untuk bermain basket karena kekalahannya yang terakhir itu.

Suasana seketika menjadi sepi ketika MC membuka acara. Ketika tirai dikerek, tampaklah deretan pemain musik yang siap membawakan lagu perdana. Mida mencari-cari di mana Kak Hanto. Saat menemukannya, dengan gerakan refleks ia melambaikan tangan kepada pemuda yang sedang memegang saksofon itu, yang kemudian membalasnya dengan senyuman.

Pada sesi berikutnya, Kak Hanto bermain solo. Mida menyimak lagu yang dibawakannya seraya berdecak kagum. Ketika sesi itu berakhir, ia berusaha menemui Kak Hanto di belakang panggung.

“Kak Hantooo.”

Ia menjulurkan tangan untuk bersalaman. “Aku Mida. 083399098788,” ujarnya setengah bercanda dengan menyebutkan nomor handphone Kak Hanto. Ia menatap Kak Hanto yang ikut tersenyum.

“Lagu yang tadi bagus, Kak,” ujarnya membuka pembicaraan.

Kak Hanto menganggukkan kepala. Kru di sekitar mereka memperhatikan Mida yang mulai heran karena Kak Hanto tak hendak mengucap sepatah kata pun.

Kak Hanto kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya. Sebuah SMS masuk ke nomor Mida.

Makasih. Maaf Kak Hanto tidak bisa menjawab langsung. Lewat SMS saja ya J.

“Kak Hanto…?” tanyanya tak percaya, kemudian dibalas dengan anggukan dari Kak Hanto.

Seorang kru memberi aba-aba kepadanya untuk bersiap-siap ke atas panggung ketika ia mengambil sebuah kotak berukuran cukup besar yang dibungkus dengan kertas kado berwarna ungu. Ia mengetik SMS lagi, Kakak kemarin melihat sepatu basket, mungkin cocok buat kamu. Terima ya. Maaf, Kakak harus segera kembali ke panggung.

Masih dengan pandangan tak percaya, Mida menerima pemberian itu. Di atas kado berwarna ungu itu tersemat kertas yang bertuliskan sebuah pesan: Dulu Kakak juga mengalami yang seperti kamu alami. Hanya saja, kamu mengeluh tak punya sepatu basket sedangkan Kakak mengeluh karena kehilangan suara untuk bernyanyi. Tetapi menjadi pemain saksofon pun tidak buruk. Tidak ada alasan untuk mengeluh.

Mida masih berusaha untuk terus menatap ke arah punggung Kak Hanto yang semakin menjauh. Beberapa saat kemudian, terdengar tepuk tangan penonton menyambut pementasan lagu berikutnya[]

(Dimuat di majalah Kawanku tahun 2009)

===============================================

Pesan di stiker itu berbunyi:

Aku menangis karena tidak punya sepatu. Di jalan aku melihat ada orang tidak punya kaki.