Gw yang banyak dosa ini merasa bahwa khutbah Jumat berikut ini sangat bermanfaat. Khutbah tersebut bertema aplikasi prinsip tauhid, satu-satunya tema yang kita sesama muslim nggak mungkin berselisih pendapat. Gw coba tuliskan terjemahan semampunya dari transkrip aslinya. Sumber: di sini.

Apa Yang Terjadi Saat Kita Mengucapkan “Laa ilaaha illa-Llah”
Syeikh Nour Kabbani
26 Juni 2015 Burton, Michigan
Khutbah Jumat di As-Sidddiq Institute & Mosque (ASIM)

(Membaca doa pembuka dalam Khutbah)

Utsman bin Affan ra meriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab ra berkata bahwa Rasul saw bersabda:

وعن عثمان بن عفان عن عمر بن الخطاب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إني لأعلم كلمة لا يقولها عبد حقا من قلبه فيموت على ذلك إلا حرمه الله على النار: لا اله إلا الله”, رواه ابن حبان في صحيحه.

Sungguh, aku mengetahui kalimat yang tidaklah hamba (Allah) mengucapkannya dengan sebenar-benarnya dari hatinya kecuali Neraka diharamkan baginya: bersaksi bahwa tak ada tuhan kecuali Allah (Ibn Hibban)

Assalamu alaikum.

Allah swt, Tuhan kita, Tuhan seluruh manusia, telah memberi tahu kita apa tujuan kehidupan. Sekarang ini orang-orang bertanya, “Apa tujuan hidup saya, mengapa saya ada di sini, mengapa kita semua ada di sini?” Allah swt adalah al-‘Aliim, Yang Maha Mengetahui, dan Kitab Suci Al-Quran adalah ‘ilm, pengetahuan yang disampaikan ke hati Nabi kita tercinta Muhammad saw, di samping Kitab Suci yang datang kepada para Rasul lainnya yang Allah swt utus. Allah swt memberi tahu tujuan hidup kita:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

(Ia) Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Surat al-Mulk, 67:2)

Allah swt telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, li-yabluwakum, untuk mengirimkan balaa’, ujian dan cobaan untuk menguji kita dan melihat bagaimana kita berbuat, li-yabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa, siapa di antara kita yang terbaik perbuatannya. Allah swt menguji seluruh manusia, orang per orang, laki-laki dan perempuan yang Ia ciptakan, untuk melihat siapa yang akan melakukan perbuatan terbaik, dan Allah swt telah menyampaikan Pesan ini melalui seluruh Rasul-Nya.

Ketika kita melihat balaa’, ujian dan kesulitan, kebanyakan berupa penderitaan, dan penderitaan bisa dalam bentuk yang beraneka ragam: jika penderitaan itu bersifat fisik, Allah swt bisa mengirimkan penyakit; atau bentuknya spiritual, Allah swt bisa mengambil akalnya, kecerdasannya atau hal lain seperti keuangan dan keluarga. Ia menguji kita, dan dalam ujian itu kita harus berhasil. Bagaimana? Bagaimana cara kita memperoleh ridha Allah swt? Jika kita melakukan perbuatan baik dalam ujian-ujian ini, dalam cobaan dan kesulitan ini, Allah ridha kepada kita. Bagaimana kita melakukannya? Bagaimana kita mengubah penderitaan kita menjadi ridha Tuhan kita?

Sayyidina Muhammad saw memberi tahu kita caranya dalam Haditsnya, bagaimana agar kita bisa mengubah balaa’ kita menjadi upaya pencarian ridha Tuhan kita. Mu’adz bin Jabal ra berkata bahwa Rasul saw bersabda:

وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “مفاتيح الجنة شهادة أن لا اله إلا الله” رواه أحمد

Kunci-kunci Surga adalah bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah (Ahmad)

“Kunci-kunci Surga adalah mengucapkan, ‘Laa ilaaha illa-Llah’”. Ketika seseorang memperoleh ridha Tuhannya, ia masuk Surga, Jannah.

Jadi untuk mencapai ridha Allah swt kita harus menanamkan “Laa ilaaha illa-Llah” sekuat-kuatnya di dalam hati dan pikiran kita, lalu, ketika kita sedang menghadapi keadaan sulit atau memiliki masalah dan kita mengendalikan diri (bersikap tenang) lalu mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah,” apa yang kita pikirkan? Ketika kita sedang melewati masa sulit dan kita mengucapkan, “Tiada tuhan kecuali Allah swt,” kita mengakui bahwa hanya Dia-lah yang mengendalikan segalanya, saat itu sebenarnya kita sedang berkata, “Oh Tuhanku! Engkau adalah Tuhan kami, Yang Maha Esa, yang mengendalikan segalanya, laa ilaaha illa-Llah, aku tidak dapat melakukan apa pun!”

Jadi karena Rasul saw bersabda, ketika kita sedang menghadapi keadaan sulit dan Allah swt sedang menguji kita dan kita menginginkan ridha-Nya, kita harus mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah,” dan benar-benar mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah swt. Kenapa? Karena Dia-lah yang mengendalikan segalanya:

وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

Karena tidak (sesuatu pun) luput dari (pengetahuan) Tuhan Pemelihara kamu walau sebesar zarrah (yang berada) di bumi ataupun di langit. (Surat Yunus, 10:61)

Allah bermaksud mengatakan, “Tak ada yang luput dari-Ku!” walaupun hanya sebuah atom di langit dan di bumi. Jadi ketika kita mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah” selama terjadinya suatu ujian atau cobaan, saat itu kita sedang berkata, “Oh Tuhan kami, tak ada yang luput dari Engkau! Engkau senantiasa melihat, mendengar, mengetahui apa yang sedang aku alami, dan aku menginginkan ridha-Mu, maka jika Engkau memandang bahwa ini harus terjadi kepadaku, aku berserah diri.”

Jadi ketika kita berkata “Laa ilaaha illa-Llah” di tengah situasi buruk, kita memasuki benteng Allah swt, sebagaimana Rasul memberi tahu kita:

ففي الحديث القدسي عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:” يقول الله تعالى لا إله إلا الله حصني فمن دخله أمن عذابي”؛ مسند الشهاب.

Allah ta’ala berfirman, Laa ilaaha illa-Llah adalah benteng-Ku; siapa yang memasuki benteng-Ku aman dari siksa-Ku. (Ibn Najjar)

Allah swt berfirman, “Kalimat ‘Laa ilaaha illa-Llah’ adalah Benteng-Ku dan siapa yang memasuki Benteng-Ku aman dari siksa-Ku,” yang berarti, “mereka berada dalam keridhaan-Ku.” Yang perlu kita lakukan adalah mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah” di tengah ujian atau cobaan; lalu mengendalikan diri (bersikap tenang), sambil berkata bahwa hanya Allah swt yang memiliki kendali penuh atas situasi ini. Artinya, Allah swt memiliki kendali atas orang di hadapan saya, Allah swt memiliki kendali atas diri saya, Allah swt memiliki kendali atas keadaan di sekitar saya, tak ada yang luput dari Allah swt.

Itulah iman! Para Rasul dan Rasul Terakhir, Sayyidina Muhammad saw, datang untuk mengajarkan iman kepada kita!Alladzii khalaqa ‘l-mawta wa ‘l-hayaata li-yabluwakum, ini adalah Janji Allah, ini adalah ketentuan terhadap anak-cucu Adam as bahwa Allah swt memberikan al-balaa’, ujian di bumi untuk kita. Tak satu pun dari kita akan merasa nyaman karena itu bukanlah ketentuannya. Jangan berkata, “Saya ingin hidup yang nyaman, keluarga, pekerjaan, rekening bank, kenyamanan ini dan itu.” Tidak, Allah swt berfirman, “Aku menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian,” dan ujian itu tidak enak. Sesuatu yang sangat tidak kita sukai akan terjadi pada diri kita: itulah ujian!

Tak ada yang senang menghadapi ujian di universitas. Siapa yang mau duduk selama tiga atau empat jam untuk menjawab ratusan pertanyaan dan belajar berminggu-minggu? Ujian itu menyulitkan. Ini sekadar ujian universitas. Bagaimana dengan balaa’ Allah? Jadi ketika Allah swt berfirman, “Aku ciptakan kalian untuk menguji kalian,” kita harus siap karena waktunya pasti akan datang: kalau bukan dari rekan kerja, maka dari istri, suami, saudara, dan sebagainya. Ujian akan datang, kenapa? Karena Allah swt ingin melihat ayyukum ahsanu ‘amalaa, siapa di antara kalian yang terbaik perbuatannya.

Allah swt adalah Yang Maha Bijaksana, Yang mengetahui segala hal tentang kita dan apa yang terjadi di sekitar kita. Itulah mengapa para ulama mengatakan, “Hamba yang benar-benar bertakwa memiliki tiga hal,” yang muncul dari ‘Laa ilaaha illa-Llah’, it’s in that Ocean.

  1. Hal pertama adalah kebergantungan kepada Allah swt, tawakkul. Ketika kita mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah” kita sedang berkata, “Oh Tuhan kami! Engkau mengendalikan apa yang sedang terjadi, aku bergantung kepada-Mu.” Itulah tawakkul: kita menyerahkan masalah itu kepada Allah swt, kita bergantung dan percaya kepada Tuhan kita. Keberserahan kepada pemeliharaan Allah berasal dari samudera “Laa ilaaha illa-Llah,”.
  2. Kedua, ketika kita berkata “Laa ilaaha illa-Llah,” kita sedang menarik diri kita dari orang lain dan berkumpul dengan Allah swt, karena Ia berfirman, “Aku duduk dengan siapa yang mengingat-Ku” (Hadits Qudsi, Ahmad, Bayhaqi) “Aku bersama orang yang menyebut-Ku.” Itu berarti ketika kita mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah” saat ujian dan cobaan, kita sedang meninggalkan orang lain dan kini bersama Tuhan kita, Allah swt. Jadi hal kedua adalah melepaskan diri dari orang lain. Kita harus meninggalkan mereka.
  3. Dan hal ketiga ketika kita mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah”, dari makna dalam samudera itu, kita sedang berkata bahwa apa pun yang terjadi di sekitar kita berasal dari Allah swt, yang berarti kita tidak memiliki kebencian lagi di dalam hati kita terhadap siapa pun, dan itu berarti kita tidak menyakiti orang lain. Kita tidak menyakiti orang lain lagi karena kita tahu bahwa Allah swt menetapkan dan menganggap kejadian ini penting. Jadi kita sedang berkata, “Laa ilaaha illa-Llah! Engkau yang mengendalikan, oh Tuhan kami! Aku tak akan menyakiti siapa pun di sekitarku.” Kita tidak menyakiti. Dengan berserah kepada ketetapan Allah swt dan mengakui bahwa Ia memegang kendali dan kita bergantung kepada-Nya, kita tidak menyakiti orang lain dan kita meninggalkan orang-orang menuju kehadiran-Nya. Itulah mafaatihu ‘l-jannah, kunci-kunci Surga, menuju ridha Allah!

Nabi Muhammad saw dan seluruh Rasul telah datang dengan pesan suci yang sama, dimulai dari Sayyidina Adam as hingga Sayyidina Muhammad saw, Rasul terakhir: mereka semua datang untuk mengajarkan manusia, “Laa ilaaha illa-Llah.”

Allah swt akan menguji kita, maka kita pergi ke benteng-Nya dan berkata, “Laa ilaaha illa-Llah.” Kita berserah kepada-Nya, dan insyaAllah kita berhasil dalam mencari ridha-Nya dan memperoleh ridha-Nya. Mudah-mudahan Allah swt memberikan kita ridha-Nya dan kunci Surga dan memasukkan kita ke Surga bersama orang-orang suci: para Nabi, Rasul, Siddiqeen,Truthful; with the Martyrs, Witnesses and the Pious:

مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّـهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـٰئِكَ رَفِيقًا

Bersama-sama dengan orang –orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh. Dan mereka ituah teman yang sebaik-baiknya. (Surat al-Nisa, 4:69)

 [Doa.]
[Akhir dari Khutbah.]