Jhumpa Lahiri

Cerpen berjudul Year’s End ditulis oleh Jhumpa Lahiri, penerima Pulitzer Prize tahun 2007 keturunan India yang besar di Amerika. Cerita sepanjang 13 ribuan kata ini dimuat di majalah New Yorker edisi 24 Desember 2007.

Sinopsis

Year’s End mengisahkan seorang mahasiswa bernama Kaushik yang, tak lama setelah ibundanya meninggal dunia, mendapatkan kabar via telepon dari ayahnya yang baru saja pulang dari India, bahwa ayahnya sudah menikah dengan seorang perempuan asli India bernama Chitra. Ia segera mengetahui bahwa perempuan itu memiliki dua gadis kecil bernama Rupa dan Piu yang ayahnya sudah meninggal dunia. Kesulitan timbul ketika ia diminta berkunjung ke rumah ayahnya untuk pertama kali sejak pernikahan ayahnya. Di rumah orang tuanya itu masih melekat kuat kenangannya bersama almarhumah ibundanya. Namun kini ia dihadapkan pada kenyataan bahwa rumah itu telah diisi oleh penghuni-penguhi baru: Chitra, Rupa dan Piu. Meskipun Chitra berusaha menyeimbangkan sikap dan kakak beradik Rupa-Piu bersikap manis dan polos, ia tak bisa menghentikan pergulatan di kepalanya yang selalu membandingkan Chitra dengan ibundanya. Ibundanya adalah imigran India yang modern, berani dan terbuka, sedangkan Chitra, meskipun berumur hampir sama dengan Kaushik, cenderung konservatif, terikat tradisi dan penakut.

Hubungan Kaushik dengan Rupa dan Piu adalah tema utama cerita ini, di mana ayahnya adalah simpul antara dirinya dan mereka. Kaushik mulai bisa membuka diri dengan mereka ketika pada suatu pagi ia tergerak mengajak mereka keluar rumah untuk pertama kali sejak kedatangan mereka ke Amerika, membeli sarapan di kedai donat yang letaknya agak jauh dari rumah, dan mendapati kedua gadis kecil itu seperti memahami kesulitan yang dihadapinya sejak kepergian ibundanya — hal yang tidak didapatkannya dari teman-teman kuliah yang telah mengenalnya bertahun-tahun.

Klimaks cerita ini terjadi justru setelah mereka merasa cukup nyaman satu sama lain, yaitu ketika ayah Kaushik dan Chitra akan pergi pada malam hari untuk memenuhi undangan seorang rekan kerja, dan Rupa dan Piu yang telah mengenakan pakaian rapi berubah pikiran untuk tetap tinggal di rumah setelah mengetahui bahwa Kaushik tidak ikut serta. Walaupun sempat ragu, Chitra mempercayakan kedua gadisnya untuk dijaga oleh Kaushik sementara ia pergi bersama suaminya, dan dalam kepergian mereka itulah terjadi hal yang sangat disesali oleh Kaushik: ia mendapati Rupa dan Piu menemukan dan mengomentari foto-foto ibundanya yang telah ‘dibuang’ oleh ayahnya ke dalam kotak sepatu di dalam kamar yang dulu ditempati olehnya, sehingga emosinya menjadi tak terkendali. Ia merasa kedua gadis kecil itu telah melanggar privasinya.

Pergulatan di dalam kepala Kaushik yang selama berhari-hari telah ia tahan tak bisa terbendung lagi. Malam itu ia mengatakan kepada Rupa dan Piu bahwa mereka telah mengetahui betapa cantik dan pintarnya ibundanya, tak dapat dibandingkan dengan ibunda mereka yang dijadikan istri oleh ayahnya hanya untuk mencuci baju dan memasak. Dengan emosional ia lalu membawa semua foto itu dan pergi meninggalkan Rupa dan Piu, tanpa tujuan, berhari-hari dan jauh sekali, hingga pada suatu hari ia memutuskan untuk mengubur foto-foto itu dan menelepon ke rumah karena ia mencemaskan keadaan Rupa dan Piu. Di luar perkiraannya, dari ayahnya ia mengetahui bahwa Rupa dan Piu tidak mengadukan kejadian malam itu kepada Chitra atau kepada ayahnya, sehingga rasa malunya karena telah meninggalkan mereka malam itu semakin bertambah dengan perasaan malu karena kedua gadis itu lebih bijaksana dari dirinya. Mereka seolah memahami kesulitan yang ia rasakan.

Cerita itu ditutup dengan kabar dari ayahnya bahwa mereka berencana pindah ke sebuah daerah di Boston yang nuansa Indianya lebih kental untuk memudahkan adaptasi Chitra, sedangkan Kaushik memutuskan untuk tidak ikut. Beberapa minggu kemudian, Rupa dan Piu hadir dalam acara wisuda Kaushik untuk menyaksikan momen kebahagiaan tersebut. Mereka tidak pernah membahas kejadian malam itu dan berusaha untuk tetap menghargai dirinya, namun tidak dapat dipungkiri bahwa ia merasa adik-adik tirinya, dua saudara terdekat yang dimilikinya, kini membatasi diri darinya.

Analisis Singkat

Cerita Year’s End memiliki kontras yang kuat pada karakter-karakter yang ada. Seringkali saya mendapati bahwa ending cerita yang sederhana namun sangat mengena terdapat pada cerita-cerita yang karakter-karakternya yang kontras, seperti pada Diamond Guitar dan Breakfast at Tiffany’s-nya Truman Capote dan pada Wuthering Heights-nya Emily Bronte. Berikut perbandingan singkat antara karakter-karakter dalam cerita ini:

Kaushik dan ayahnya. Kaushik terjebak dalam kenangan bersama ibundanya; ayahnya berusaha melupakan masa lalu dengan istrinya yang sudah meninggal.

Kaushik dan kedua adik tirinya. Kaushik ditinggal oleh ibundanya; Rupa dan Piu ditinggal oleh ayah mereka. Kaushik yang sudah dewasa belum bisa menerima kematian ibundanya; Rupa dan Piu yang masih anak-anak bisa menerima kematian ayah mereka, bahkan bisa memahami kesulitan Kaushik yang timbul karena kematian ibundanya.

Ibunda Kaushik dan Chitra. Ibunda Kaushik berpikiran terbuka, berani, modern; Chitra konservatif, penakut dan terikat oleh tradisi.