Konsekuensi adanya waktu adalah ketidakpastian. Semua serba mungkin: mungkin gagal sekaligus mungkin berhasil.

Tuhan menjamin manusia saleh berupa kepastian akhir yang baik. Tapi antara saat ini dan saat kepastian itu datang, ada waktu yang harus dilewati.

Nabi Musa as, ketika diperintahkan untuk memperingatkan Firaun, mendapat kepastian bahwa Allah akan melindunginya. Namun, antara saat ia menemui Firaun dan saat binasanya Firaun, ada pengejaran mengerikan oleh Firaun dan tentaranya yang harus dihadapi Nabi Musa as.

Nabi Nuh as, ketika diperintahkan untuk memperingati kaumnya, sudah mendapat kepastian perlindungan Allah. Namun, antara saat ia mulai menyeru kebaikan sampai saat Allah selamatkan dirinya, ada masa panjang yang penuh dengan penghinaan dan ancaman dari para penguasa kaumnya.

Bahkan orang-orang yang mati dalam mempertahankan kebenaran digambarkan Allah sebagai tidak mati dan mendapat kenikmatan. Itu didapat setelah waktu-waktu mencekam menghadapi peperangan.

Kita melakukan SHOLAT untuk meminta kepastian tentang akhir yang baik, lalu berusaha, sambil BERSABAR melewati waktu itu tiba. Mungkin ini yang dimaksud “Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu.”