Menurut gw buku The Black Swan (Taleb) dan Madilog (Tan Malaka) itu unik. Keduanya bukan buku agama, tapi bisa jadi bacaan tambahan untuk menerima kemungkinan datangnya hari kebangkitan.

The Black Swan itu buku “antistatistik”, gagasan utamanya adalah adanya kemungkinan terjadinya peristiwa berdampak besar yang gak terdeteksi sebelumnya oleh ramalan statistik, tapi ternyata sangat mudah dipahami setelah kejadiannya.

Madilog itu “buku saku pergerakan” PKI buat melawan penjajah. Buku ini berbau ateis, kecuali kalo kita skip bab materialisme. Sisanya, tinggal bahasan logika dan dialektika. Gagasan utamanya adalah, apa yang kita logikakan saat ini bisa meleset total kalau dialektika terjadi (yaitu logika bergeser). Misalnya, sebuah kubus yang salah satu sisinya berwarna kuning dihadapkan ke seseorang lalu ditanyakan, “Apa warna sisi kubus yang di bagian belakang?” Sesuai logika ia akan menjawab, “Kuning” karena prediksinya seluruh permukaan kubus berwarna kuning. Tapi ketika sisi belakang kubus diputar ke depan, bisa aja dia mendapati warna hitam. Tan Malaka mau bilang, ayo lawan penjajah walaupun saat ini kita pikir kita nggak akan mampu.

Terakhir, dalam sebuah pertemuan, bos besar di kantor lama pernah menyampaikan ungkapan begini: di antara mulut cangkir dan bibir ada 1.000 kemungkinan!

Dalam rentang waktu yang sebentar aja ada banyak kemungkinan yang gak disadari, apalagi untuk menyadari akan datangnya hari kebangkitan dalam rentang kehidupan kita yang panjang: butuh ingat dan saling mengingatkan.