Dikisahkan seorang anak yang tidak diunggulkan dalam pertarungan itu, David, sedang berhadapan dengan Goliath, seorang manusia besar yang ganas.

Setiap orang yang hadir di sana ngeri membayangkan David lumat bersama tanah di bawah kaki Goliath. Ia hanya membawa sepotong kayu dan mengantongi beberapa buah batu.

Tapi ini bukan kayu dan batu biasa. Kayu itu adalah alat pelontar batu yang sangat presisi, jenis senjata canggih yang belum banyak diketahui pada masa itu, sedangkan batu yang dibawanya adalah jenis batu yang memiliki kerapatan dua kali lipat dari batu biasa. Konon, batu yang bisa dilontarkan dengan alat ini setara kekuatan pada peluru yang ditembakkan dengan pistol kaliber .45. “Kemari, aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di langit dan binatang-binatang di sekitar sini,” kata Goliath. Sementara ia harus menunggu lawannya mendekat, batu itu dilontarkan David tepat di antara kedua matanya. Raksasa itu tumbang sebelum pertempuran ia mulai.

Kisah David dan Goliath adalah metafora kemenangan tak terduga yang diraih pihak yang tidak unggul. David berbadan kecil sehingga tak mungkin mengalahkan raksasa Goliath dalam sebuah duel. Senjata yang dimilikinyalah yang mengantarkannya pada kemenangan.

Sepanjang waktu, kita (ruh) menghadapi pertarungan tak seimbang dengan jasad. Tak seimbang, karena ini terjadi di wilayah jasad yaitu arena materi. Dari beberapa ceramah gw simpulkan bahwa hawa nafsu timbul karena jasad cenderung kepada arena materi: harta, tahta dan wanita. Ruh dikatakan kotor ketika tersandera oleh keinginan jasadiah ini.

Pertarungan tak seimbang ini bisa diduga hasilnya. Seperti yang akan terjadi pada David seandainya ia tak memiliki senjata kaliber .45-nya. Atau seperti yang sudah berulang kali kita alami sendiri dalam hidup ini.

Maka kita harus membawa dzikir sebagai senjata. Dzikir menghadirkan dalam pertempuran ini, Tuhan yang telah mengutus seorang manusia untuk memperkenalkan Ia kepada kita.

Shollallahu ‘alaa Muhammad.
Ya Tuhan, tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai* dan bukan jalan orang-orang yang tersesat*. Amin.

———-
* Keadaan kami saat ini jika tak ada bagi kami rahmat dan ampunan-Mu.