Entah ya, kalo gak dituliskan, beberapa premis penting dalam agama jadi keliatan saling berlawanan. Gak adanya kesimpulan dalam premis-premis tersebut kayaknya ngaruh ke perilaku gue: saling berlawanan.

Di post ini gue coba tuangin kesimpulan yang sementara ini gue pegang, untuk dicek apa yang miss, yang menyebabkan mereka jadi tampak berlawanan.

1. Pengetahuan ada di sisi Tuhan. Yang mutlak logis adalah pernyataan Tuhan. Logika manusia terbatas pada informasi yang sampai ke otaknya melalui panca indera.

Dari premis #1, ditetapkan:
a. wahyu logis
b. pemikiran manusia tidak logis jika bertentangan dengan wahyu.
c. manusia nggak bisa memahami poin b, hanya bisa menyadarinya.

2. Apa yang diklaim sebagai wahyu harus diuji, tapi premis #1 harus disadari.

Maksudnya, karena wahyu yang sejati nggak bisa diuji dengan logika manusia, bermunculannya klaim palsu bahwa suatu informasi adalah wahyu, nggak bisa dibantah atau diterima dengan logika manusia. Maka wahyu sejati akan menggandeng bukti lain yang berada di dalam wilayah panca indera manusia. Akhirnya, informasi yang diklaim sebagai wahyu dapat dipercaya kalau bukti indrawinya logis. Misal, Muhammad saw menyampaikan kalam Tuhan tentang perumpamaan keadaan hati orang kafir sebagai lapisan laut yang terdalam (surat AnNuur), yang sangat gelap, sampai-sampai seorang pelaut mengira ‘Al Quran ditulis oleh seorang pelaut’ lantaran penggambaran di dalam Al Quran sesuai dengan pengalamannya sebagai pelaut. Setelah bukti ini, dan bukti-bukti lain yang ada dalam wilayah panca indera, dibenarkan, informasi inti dari wahyu bisa dipercaya tanpa diuji (karena mustahil diuji).

Dari premis ini ditetapkan bahwa Al Quran adalah wahyu dari Tuhan.

3. Al Quran menyatakan, antara lain:
a. Segala sesuatu terjadi atas izin Tuhan.
b. Manusia boleh menginginkan perubahan keadaan.
c. Keinginan perubahan keadaan nggak cuma ‘diusahakan’ dengan meminta kepada Tuhan, tetapi juga berusaha mengubahnya.

Apakah artinya: usaha yang dilakukan oleh manusia itu bukan untuk mengubah keadaan secara langsung, tetapi sebagai usaha dalam rangka ‘meminta’ kepada Tuhan?

Lalu kenapa manusia boleh menginginkan perubahan atas keadaan yang sudah dikehendaki oleh Tuhan? Bukannya Tuhanaha Penyayang, sehingga apa yang telah ditetapkan olehNya sudah yang terbaik? Apakah jangan-jangan usaha manusia terjadi berdasarkan kehendak Tuhan juga? Tapi kalau demikian, kenapa manusia diperintahkan untuk (memulai) berusaha?

Di sinilah letak kontradiktif yang gue alami, yang gue sampaikan di bagian awal: antara usaha manusia mengubah keadaan dan kehendak Tuhan atas keadaan tersebut. (Keadaan bisa berupa apa yang gue alami saat ini, atau bisa juga berupa ketetapan surga/neraka bagi gue di akhirat, dengan usaha berupa usaha selain ibadah dan usaha berupa ibadah.)

Baiklah, gue rasa missnya ada pada premis 1 yang kemudian terabaikan: pengetahuan ada di sisi Tuhan. Manusia harus selalu sadar bahwa mereka ngejalanin hidup dengan meraba-raba, tak terkecuali bagi mereka yang mendengarkan petunjuk Al Quran. Otak manusia nggak akan sanggup memahami satu pengetahuan utuh tentang apa yang mesti mereka lakukan. Maka dari itu, kadang melalui Al Quran manusia diperintahkan untuk berusaha, di waktu yang lain (ketika tujuan ternyata tidak tercapai) manusia justru disuruh mengingat bahwa semua adalah kehendak Tuhan (supaya nggak kecewa).

Barangkali ilustrasinya begini (Maha Suci Allah dari persamaan):
Orang buta minta kepada kawannya untuk ditunjuki di mana letak sebuah kursi. Kawannya memandu, “Maju.” Si buta mengikuti panduan itu, tapi dia pikir akan langsung menuju ke kursi, padahal harus belok sekali. “Kok gak ketemu kursinya?” keluh si buta. Kawannya bilang, “Belok kiri.” Si buta berhenti, putus asa. Kawannya mengingatkan, “Jangan putus asa, semua aku yang atur.” Kalau si buta merasa lebih ‘melihat’ dari kawannya, ia akan protes, “Tapi tadi katanya maju, kok sekarang belok kiri?” Sama seperti kita bilang, “Tadi disuruhNya usaha, kok sekarang (saat ‘gagal’) disuruhNya ingat bahwa Ia pengatur segalanya?”

Ilustrasi ini membawa gue pada premis tambahan:
4. Al Quran bukan untuk dipahami dengan meringkasnya, karena malah akan didapat hal-hal yang tampak bertentangan. Justru, Al Quran harus dibaca-dipahami-dipraktikkan bagian per bagian secara rutin (sebagaimana panduan step by step), karena isinya disesuaikan dengan (keterbatasan) otak manusia ‘dalam melihat’. Untuk kita yang baru mulai pelajari Al Quran, jangan berusaha memahami gambaran besarnya, tapi pahamilah ‘pedoman saat ini’ untuk ‘kondisi kita saat ini’.

Wallahu a’lam.
——————
Sebagai tambahan, sifat Tuhan Maha Penyayang nggak berarti kondisi saat ini yang sudah ditetapkan olehNya gak perlu diubah. Ilustrasi (Maha Suci Allah dari persamaan): waktu kita kecil, pipis masih suka di jalanan. Bukan berarti karena ibu sayang, dan kita ada di bawah asuhan ibu, maka kebiasaan ini nggak perlu diubah. Sifat sayang ibu ditunjukkan dengan pelan-pelan mendidik kita untuk pipis di kamar mandi.

Demikian pula, bukan berarti keadaan kita saat ini yang kurang beriman adalah pilihanNya berdasarkan kasih sayangNya. Bukan berarti keadaan kita saat ini yang masih kurang jujur, kurang berilmu, dsb, adalah pilihanNya berdasarkan kasih sayangNya. Kasih sayangNya tercermin pada momen-momen dalam hidup yang memberikan kita kesempatan untuk berdoa dan berusaha mencapai kondisi yang lebih baik.

Wallahu a’lam.