Melanjutkan posting sebelumnya, akhirnya surat tugas belajar untuk saya (dan kawan-kawan) keluar. Surat itu menetapkan penugasan saya mulai tanggal 10 Maret 2014 sampai Maret 2016. Tepatnya pada hari Jumat, 7 Maret 2014, terbit lagi keputusan pembebasan saya dari K** Jaksel ke kantor pusat, sebagai bagian administratif penugasan saya untuk belajar.

Sebenarnya perpisahan semi-formal di kantor sudah dilakukan seminggu sebelumnya. Saya, Dedy dan Fitroh dikerjai di depan, disuruh rebutan menjawab beberapa pertanyaan. Masing-masing dari kami diberikan sebuah galon air mineral yang sudah dihias, dan kami harus memukul bagian belakang galon sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan. Ide dasar dari konsep acara ini saya curigai adalah, “Pikir tujuh kali untuk merasa pintar, bisa nggak jawab ini?” plus sebuah senyuman jail. Pertanyaannya bersifat umum, seperti mengapa anjing menjulurkan lidah, hewan apa yang ada di seluruh penjuru Indonesia, siapa penemu listrik. Karena kami menyadari kebodohan masing-masing, setelah pertanyaan dilontarkan kami cepat-cepat memukul galon orang lain. Saya pukul galon Fitroh dan Dedy, begitu juga Fitroh berusaha memukul galon saya dan Dedy, serta Dedy mencoba memukul galon saya dan Fitroh.

Oya, akhirnya saya mendapatkan skor paling tinggi. Lagi-lagi itu bukan indikasi kepintaran. Kata Dedy, “Gue tahu hadiahnya kalendar, gue udah punya, jadi gue gak mau jawab banyak-banyak.” Jadi Dedy mengalah. Di sisi lain, saya mendapatkan skor terbanyak karena sering menjawab. Penyebabnya tiga: tingkah laku Fitroh yang rajin banget memukul galon yang saya pegang di awal-awal, antusiasme saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan akhir dengan tujuan agar acara ngerjain itu cepat berakhir, dan toleransi MC untuk menganggap jawaban asal saya menjadi benar.

Perpisahan personal saya lakukan pada hari Jumat, 7 Maret 2014. Hari itu adalah hari terakhir saya di K** Jaksel. Setelah sholat ashar, saya menyempatkan diri untuk mampir ke lantai 7, menemui seorang teman bernama Ahmad A. Dia adalah keturunan Syekh Tholhah Cirebon. Orangnya alim sekaligus “bandel”. Untuk urusan asmara dia mau cari sendiri, padahal dia berada di lingkungan yang sudah jelas ‘arif. Lucunya dia meminta doa saya agar niatnya meminang seorang gadis dari luar lingkaran elit-sosialnya berjalan lancar. Begitulah, saya rasa dia tidak melihat kepada siapa dia meminta doa, tetapi kepada siapa doa itu ditujukan oleh orang yang dimintanya berdoa.

Pukul setengah lima saya naik ke lantai 24 untuk pamit dengan para pegawai sekantor. Saya agak terburu-buru sebab saat itu sudah mendekati waktu pulang. Untunglah saya masih bisa berkeliling untuk pamit, termasuk kepada Bu Elis Kabag Umum, Denty dan Betty teman seangkatan, dan teman-teman serta Bapak/Ibu di Bidang Duktekkon: Bu Nia, Pak Deri, Pak Wahyu D., Pak Arif, Mas Mursid, Mas Hadi, Mas Chaerul, Bu Tuti dan Eni. Adapun Pak Wahyu P., sehari sebelumnya saya pamit lebih dahulu kepadanya karena kebetulan saya ketahui beliau akan mengambil cuti pada hari terakhir saya di kantor.

Hari itu saya pulang pukul sembilan malam, setelah memastikan bahwa meja kerja saya sudah rapi dan keterangan-keterangan tertulis tentang pekerjaan saya sudah cukup. Kebetulan saya ditemani oleh Mas Chaerul yang masih ada pekerjaan.

Turun dari lantai 24, saya sholat isya dulu di masjid kantor. Pintu masjid sudah tutup, lampu-lampu di teras sudah padam. Dalam suasana sepi itu, saya merasa lapang. Saya serta-merta teringat pembahasan Prof. Dr. Quraish Shihab dalam buku Tafsir Al-Mishbah tentang surat Alam Nasyrah, meskipun saya ragu adakah relevansinya dengan diri saya. Secara gampang, barangkali saya mengingat pembahasan itu karena adanya kata “nasyrah” (telah kami lapangkan), “yusro” (kemudahan), “fanshob” (bergegas melakukan pekerjaan selanjutnya), dan “wa ilaa robbika farghob” (dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap), yang kesemuanya seolah beresonansi dengan apa yang saya rasakan malam itu. Untuk menggenapkan bentuk pengharapan saya kepada Tuhan, usai sholat saya menelepon ibu saya sambil duduk di tangga masjid, mengabarkan kepadanya bahwa hari itu saya terakhir bekerja di kantor dan meminta doanya agar pekerjaan yang telah saya selesaikan tidak mendatangkan kesulitan di masa mendatang serta agar tugas belajar saya berjalan lancar.

Catatan: Sepertinya saya tidak menyimpan banyak foto teman-teman saya di Bidang Duktekkon. Tetapi saya yakin, seperti sebelum-sebelumnya, bahwa saya akan mengingat mereka satu tingkat lebih baik dari kemampuan saya menyimpan flash disk berisi foto-foto mereka.