Beberapa hari lalu saya mencatat di wall Facebook begini:

Seseorang mungkin benar, sampai ia merasa hanya pendapatnya yang benar.

Setelah itu saya diserang oleh pikiran saya sendiri. “Bagaimana dengan keyakinan suatu pemeluk agama terhadap agamanya, yang sekaligus mengeksepsi kebenaran agama lain?” Sebab jika konsep pluralitas kebenaran pendapat di atas diterapkan dalam ranah agama, hasilnya akan rancu.

Dalam catatan ini, akan saya tuliskan jalan keluar atas keberatan tersebut.

Konsep di atas menekankan terbukanya kemungkinan datangnya kebenaran dari beragam pendapat. Ini disebabkan terbatasnya diri kita untuk menangkap segala aspek yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, pendapat seseorang yang berbeda dengan pendapat kita mungkin benar — dan mungkin juga tidak. Benarnya pendapat seseorang tidak mesti membatalkan kebenaran pendapat kita, tergantung aspek mana yang ia tekankan.

Hal ini tentu berbeda dalam persoalan kebenaran agama. Benarnya suatu agama membatalkan kebenaran agama-agama lain. Namun perlu dipahami bahwa pernyataan tersebut datang, atau dipercayai datang, dari Tuhan. Dengan demikian perlu digarisbawahi bahwa itu bukanlah pendapat saya, Anda atau dia. Itu adalah kepercayaan saya, Anda atau dia.

Dari sinilah ditemukan titik terang. Jika saya mengatakan bahwa agama saya yang benar sekaligus bahwa agama Anda salah, pernyataan tersebut tidak bersalahan dengan konsep pluralitas kebenaran pendapat sebagaimana dikutip di awal tulisan. Sebab, pernyataan tersebut berada di luar lingkup konsep pluralitas kebenaran pendapat. Pernyataan salahnya agama-agama lain ada dalam tataran kepercayaan.

Hal ini membawa saya pada pemahaman, betapa kepercayaan seseorang terhadap kebenaran agamanya dan kepercayaan orang lain terhadap kebenaran agama lainnya, harus terhindar dari perdebatan. Sebab, perdebatan hanya relevan apabila menyangkut ranah pendapat.

Lebih lanjut, dalam logika di atas, kepercayaan terhadap kebenaran suatu agama juga tidak lantas mengharuskan pemeluknya untuk membenarkan agama lain — yang merupakan tindakan yang bertentangan dengan kepercayaannya terhadap pernyataan (yang ia yakini datang dari) Tuhan. Karena setiap kepercayaan merujuk kepada Tuhan, kebenarannya tidak mungkin tidak tunggal. Kepercayaan akan kesalahan agama lain harus tetap ada dalam diri si pemeluk agama, namun bukan untuk diperdebatkan dengan pemeluk agama lain apalagi sampai memicu konflik.

Pada Al-Qur’an & Maknanya, Prof. Dr. Quraish Shihab memberi catatan kaki ayat 6 Surat Al-Kafirun {“(Katakan) …. bagimu agamamu dan bagiku agamaku”} sebagai berikut: surah ini menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak memaksakan Islam kepada orang lain; Masing-masing melaksanakan tuntunan agamanya dan tidak mencampur-adukkan ajaran agama satu dengan yang lainnya.

Dalam berhubungan dengan pemeluk agama lain, perlu dikedepankan sikap saling menghormati, antara lain dengan melestarikan kesadaran bahwa keyakinan mereka akan kesalahan agama kita adalah pernyataan yang mereka percayai berasal dari Tuhan, bukan pendapat pribadi mereka. Tak perlu ada konflik. Sedangkan dalam urusan selain kepercayaan — yakni urusan pendapat — perlu disadari bahwa kemantapan kita terhadap kebenaran agama yang kita anut tidak lantas memberikan kita hak tunggal atas kebenaran pendapat. Jangan ada dominasi.