Dalam PDJP nomor PER-31/PJ/2009, ada istilah penghasilan setahun dan penghasilan yang disetahunkan.

Penghasilan setahun adalah penghasilan yang secara riil diterima oleh pegawai selama satu tahun. Secara sederhana, pegawai yang bekerja penuh dari Januari s.d. Desember memiliki penghasilan setahun sebesar (gaji per bulan x 12) + bonus; jika ia berhenti bekerja pada pertengahan tahun, penghasilan setahun adalah (gaji per bulan x masa bekerja dalam setahun) + bonus.

Penghasilan yang disetahunkan adalah penghasilan yang tidak full satu tahun tetapi dihitung seolah-olah diterima selama 12 bulan. Dalam posting kali ini saya ingin menulis contoh-contoh penghasilan yang disetahunkan, yang ada di PDJP nomor PER-31/PJ/2009 s.t.d.d. PDJP nomor PER-57/PJ/2009.

Keyword untuk penghasilan disetahunkan:

Untuk pegawai tetap yang kewajiban pajak subjektifnya baru dimulai setelah bulan Januari atau berakhir sebelum bulan Desember, PPh Pasal 21 terutang dihitung berdasarkan jumlah seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh, baik yang bersifat teratur maupun tidak teratur, yang disetahunkan.

(lampiran PDJP nomor PER-31/PJ/2009 s.t.d.d. PDJP nomor PER-57/PJ/2009 Bagian pertama, romawi I.2 butir 2 huruf b)

Soal 1: tanpa bonus

David Raisita (K/3) mulai bekerja 1 September 2009. Ia bekerja di Indonesia s.d. Agustus 2012. Selama Tahun 2009 menerima gaji per bulan Rp 20.000.000. Bagaimana penghitungan PPh Pasal 21-nya?

Kondisi David Raisita memenuhi keyword di atas. Dengan demikian, penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah penghasilan yang disetahunkan.
A.Penghasilan bruto yang riil diterima selama 2009:
Gaji (Rp20 juta x 4) = Rp80 juta
B. Pengurang:
Biaya jabatan (5% x Ph bruto, maks. 4 x Rp500ribu) = Rp2 juta
C. Penghasilan neto yang riil diterima selama 2009 (A-B) = Rp78 juta
D. Penghasilan neto yang disetahunkan (12/4 x C) = Rp234 juta
E. PTKP (K/3) = Rp21,12 juta
F. Penghasilan Kena Pajak (D-E) = Rp212,88 juta
G. Pembulatan PKP dalam ribuan = Rp212,88 juta (tetap)
H. PPh Pasal 21 terutang (Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a) = Rp26,932 juta.
I. PPh Pasal 21 per bulan (H : 12) = Rp2.244.333.
Pembagi pada romawi I untuk penghasilan yang disetahunkan selalu 12.

Soal 2: ada bonus
Lewis Oshea (K/3) mulai bekerja Mei 2004 dan berhenti bekerja sejak 1 Juni 2009 dan meninggalkan Indonesia ke negara asalnya (kehilangan kewajiban pajak subjektif). Selama tahun 2009 menerima gaji perbulan sebesar Rp 15.000.000,00 dan pada bulan April 2009 menerima bonus sebesar Rp 20.000.000,00. Bagaimana penghitungan PPh Pasal 21 tahun 2009?

Kondisi Lewis Oshea memenuhi keyword di atas. Dengan demikian, penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah penghasilan yang disetahunkan.

A.Penghasilan bruto yang riil diterima selama 2009:
Gaji (Rp15 juta x 5) = Rp75 juta
Bonus = Rp20 juta
Total Penghasilan bruto yang riil diterima selama 2009 (gaji 5 bulan + bonus) = Rp95 juta
B. Pengurang:
Biaya jabatan (5% x Ph bruto, maks. 5 x Rp500ribu) = Rp2,5 juta
C. Penghasilan neto yang riil diterima selama 2009 (A-B) = Rp92,5 juta
D. Penghasilan neto yang disetahunkan (12/5 x C) = Rp222 juta
E. PTKP (K/3) = Rp21,12 juta
F. Penghasilan Kena Pajak (D-E) = Rp200,88 juta
G. Pembulatan PKP dalam ribuan = Rp200,88 juta (tetap)
H. PPh Pasal 21 terutang (Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a) = Rp25,132 juta.
I. PPh Pasal 21 per bulan (H : 12) = Rp2.094.333.
Rp2.094.333 adalah besarnya PPh Pasal 21 yang harus dipotong setiap bulan oleh pemberi kerja selama tahun 2009.

PPh Pasal 21 sudah mulai dipotong atas penghasilan bulan Januari. Pada saat bagian keuangan menghitung PPh Pasal 21 atas penghasilan bulan Januari, belum diketahui bahwa Lewis Oshea akan kehilangan kewajiban pajak subjektifnya. Dengan demikian, pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan Januari (s.d. April) belum menggunakan kaidah penghasilan yang disetahunkan. Berikut perhitungannya:

Penghitungan awal PPh Pasal 21 atas gaji
A.Penghasilan bruto atas gaji:
Gaji (Rp15 juta x 12) = Rp180 juta
B. Pengurang:
Biaya jabatan (5% x Ph bruto, maks. 12 x Rp500ribu) = Rp6 juta
C. Penghasilan neto yang riil diterima selama 2009 (A-B) = Rp174 juta
D. Penghasilan neto yang disetahunkan = Rp….. juta
E. PTKP (K/3) = Rp21,12 juta
F. Penghasilan Kena Pajak (D-E) = Rp152,88 juta
G. Pembulatan PKP dalam ribuan = Rp152,88 juta (tetap)
H. PPh Pasal 21 terutang (Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a) = Rp17,932 juta.
I. PPh Pasal 21 per bulan (H : 12) = Rp1.494.333.

Penghitungan PPh Pasal 21 atas ketika mendapat bonus
PPh Pasal 21 atas gaji dan bonus:
A.Penghasilan bruto atas gaji dan bonus:
Gaji (Rp15 juta x 12) = Rp180 juta
Bonus = Rp20 juta
Total Ph bruto = Rp200 juta
B. Pengurang:
Biaya jabatan (5% x Ph bruto, maks. 12 x Rp500ribu) = Rp6 juta
C. Penghasilan neto yang riil diterima selama 2009 (A-B) = Rp194 juta
D. Penghasilan neto yang disetahunkan = Rp….. juta
E. PTKP (K/3) = Rp21,12 juta
F. Penghasilan Kena Pajak (D-E) = Rp172,88 juta
G. Pembulatan PKP dalam ribuan = Rp172,88 juta (tetap)
H. PPh Pasal 21 terutang (Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a) = Rp20,932 juta.
PPh Pasal 21 atas gaji = Rp17,932 juta
PPh Pasal 21 atas bonus = Rp3 juta

Dengan demikian, PPh Pasal 21 yang dipotong atas penghasilan terakhir Lewis Oshea adalah sbb:
A. PPh Pasal 21 yang (sebenarnya) terutang dari Januari s.d. Mei (5 x Rp2.094.333) = Rp10.471.665
B. PPh Pasal 21 yang sudah dibayar:
– atas gaji Januari s.d. April (4 x Rp1.494.333) = Rp5.977.332
– atas bonus = Rp3.000.000
C. PPh Pasal 21 yang dipotong atas penghasilan terakhir Lewis Oshea (A-B) = Rp1.494.333.

Sumber gambar: ini