Ilusi dan Akal

Ilusi gak bisa dilawan dengan akal, karena ilusi justru diracik dengan perspektif akal.

Ketika Copperfield ingin penonton membenarkan bahwa patung liberty hilang, ia mempertimbangkan perspektif akal: hilangnya patung ditandai dengan tampilnya pemandangan langit yang utuh, tak terhalangi oleh patung. Copperfield, sebagaimana diyakini oleh beberapa analis, melakukannya dengan membatasi area pandang kamera, lalu ketika tirai ditutup, panggung dan kamera diputar secara bersamaan ke arah lain sehingga yang tampak ketika tirai dibuka kembali adalah hamparan langit belaka pada bagian langit yang berbeda, seolah-olah patung liberty telah ia lenyapkan. Menonton atraksi itu dengan akal, kita tak bisa mengelak untuk tidak memercayainya.

Lalu, mana ilusi dan mana sungguhan? Bagaimana membedakannya? Kata ilusi dan realitas setidaknya mengingatkan gw pada lantunan Freddie Mercury dan pemikiran Plato. Freddie Mercury membuka lagu Bohemian Rhapsody dengan lirik bombastis:

Is this a real life? / Is this just fantasy? / Caught in a lanslide / No escape from reality.

Entah apa yang dirasakannya setiap kali membawakan lagu ini, tapi yang jelas lagu ini menyuguhkan satu spekulasi: Apakah dunia kita ini ilusi?

Gagasan Plato tentang Alegori Gua melengkapi spekulasi ini. Plato mengilustrasikan realitas dan ilusi lewat cerita tentang orang2 yang berada di dalam sebuah gua. Sekujur tubuh mereka gak bisa digerakkan sama sekali, sehingga satu-satunya yang bisa mereka lihat hanyalah pemandangan di hadapan mereka, yaitu dinding gua yang menangkap bayangan dari benda2 di belakang mereka. Bayangan adalah analogi dari persepsi (ilusi), sedangkan benda2 di belakang mereka adalah realitasnya. Jadi yang tampak oleh mereka hanya ilusi yang mungkin gak sama dengan realitas sebenarnya.

Ketika salah seorang dari mereka (si Andi) berhasil melepaskan diri, barulah ia sadar bahwa realitas yang sesungguhnya bukanlah yang selama ini ia saksikan pada tembok itu, tetapi berada di belakangnya. Apa yang selama ini mereka pahami sebagai kuda, misalnya, ternyata hanya bayangan dari kuda yang sebenarnya.

Lalu bagaimana yang lainnya bisa menyadari ilusi ini, sedangkan mereka gak bisa melepaskan belenggu2 pada diri mereka? (Dalam kisah aslinya, mereka menolak dilepaskan dari belenggu2 itu) Yang mereka butuhkan adalah Andi. Mereka mesti membuka diri terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh Andi. Artinya, mereka mesti menundukkan akal terlebih dahulu. Jika tidak, akal hanya akan membenarkan ilusi tersebut.

Ini persis seperti kelanjutan ilustrasi Plato. Si Andi mencoba membangunkan kesadaran teman2nya. Ia menjelaskan bahwa kuda sungguhan bukanlah bayangan pada tembok itu. Kuda sungguhan jauh lebih indah. Tapi mereka malah mencemoohnya karena, menurut akal mereka, bayangan itu tampak sungguhan sedangkan apa yang diceritakan Andi kepada mereka gak bisa diterima oleh akal.

Lalu jika mesti ditundukkan, kenapa ada akal? Jawabannya sederhana. Akal tetap dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan2 yang masih berada ‘di dalam wilayahnya’. Sebagai contoh, kita membutuhkan akal untuk mengantisipasi banjir meskipun akal gak dapat digunakan untuk menentukan realitas air. Thomas Edison juga membutuhkan akal untuk menciptakan lampu pijar meskipun akal gak dapat digunakan untuk menentukan realitas lampu pijar.

Sedikit lagi.

Plato mengumpamakan “Andi” sebagai para filosof yang telah mendapatkan pengetahuan tinggi. Sebagai umat beragama, lebih asyik untuk mengumpamakan “Andi” sebagai para Rasul dan Nabi penerima wahyu. Pertanyaan sulitnya: kalau selain Andi ada Rudi yang juga mengaku telah melihat Realitas, namun pandangannya bertentangan dengan Andi… bagaimana kita dapat menemukan jawaban tentang siapa yang mesti kita ikuti, sementara akal sudah menyerah untuk masuk ke wilayah ini? Sampai di sini kita telah masuk ke jalan buntu. Gak ada jawaban.

Ini mungkin alasan kenapa seseorang mengatakan bahwa orang lain yang akhirnya menganut agama yang sama dengannya “telah mendapat hidayah/petunjuk”. Maksudnya, ketika dia dengan sukarela meninggalkan akal di wilayah akal, dan karenanya dia menjadi sangat bingung untuk menjatuhkan pilihan antara “Andi” dan “Rudi”, Tuhanlah yang akan menuntunnya menemukan pembawa agama yang benar. Sehingga masuknya kita ke dalam agama itu semata karena petunjuk dari-Nya (setelah keberserahan kita). Sikap kita “menyalahkan” agama lain pun bukan merupakan pendapat pribadi kita, tetapi semata keberserahan dalam menjalankan petunjuk itu.

Wallahu a’lam.

Masih Adakah Kebetulan?

Waktu gw lagi whatsappan sama istri, senior gw tiba2 pasang wifi dan setel rekaman ceramah Ust Sallim A. Fillah di Youtube dengan tema ‘apa yang dicari dalam pernikahan’*. Setiap kata berkah, beliau mengangkat tangan memberikan penekanan atau melirik ke arah gw.

Tek! Gw tersadar ini bukan kebetulan, dan hanya Allah yang mengaturnya.

Dalam cerita ‘Breakfast at Tiffany’s’ versi tulisan, waktu mau ada adegan Holly Golightly akan ketemu mantan suaminya yang berprofesi sebagai DOKTER HEWAN, di jalan Holly berpapasan dengan seekor ANJING di jalan. Dalam sebuah tulisan yang bertujuan membedah teknik penulisan di cerita tsb, dijelaskan bahwa nuansa dokter hewan yang didahului dengan nuansa anjing di dalam cerita, disebut flashing, dan digunakan untuk membuat pergeseran cerita jadi smooth.

Nyatanya, dalam kehidupan kita ada banyak hikmah yang, kalau Allah gak berikan nikmat ‘sadar’, semua ini tampak di permukaan sebagai kejadian acak. Atau mentok2nya kita sebut peristiwa kebetulan. Padahal semua kejadian atas izin Allah. Gw kemudian yakin, atas izin ALLAH senior saya itu pagi2 nyetel ceramah ttg PERNIKAHAN saat gw lagi whatsappan dengan ISTRI.

Dan pasti masih banyak ‘lembaran peristiwa’ yang padanya tertulis hikmah dari Allah, tapi tersamarkan karena gw ‘buta aksara’, karena gw belum bisa membacanya. Yang penting kepala tertunduk, hati mengakui gak punya ilmu sambil meyakini bahwa Allah Maha Penyayang di setiap peristiwa kepada semua hamba-Nya, termasuk kepada si bodoh ini. Gak ada peristiwa buruk, yang ada cuma kita gak sanggup memahami kebaikan di dalamnya.

Dan sebenarnya hati gw lebih suka berpikir buruknya peristiwa atau kurang maksimalnya kenikmatan, ketimbang keyakinan bahwa kita adalah ikan2 di lautan kasih sayang Allah. Ya Allah, ayat بسم الله الرحمن الرحيم, bahwa Engkau selamanya Maha Penyayang, pun belum kuat hamba imani, ampuni hamba ya Allah.

 

Wallahu a’lam

*) Ust. Salim A. Fillah menjelaskan, doa Rasul untuk pasangan yang menikah (barakallahu laka wa baraka alaika …), bermakna semoga Allah membahagiakanmu (dalam keadaan senang) dan memberikan kebahagiaan (dalam keadaan berat).

Transkrip Full Ceramah Habib Umar bin Hafizh dalam Haul Syekh Abu Bakar bin Salim (14 November 2015)

Berikut ini saya sajikan transkrip terjemahan dari ceramah Guru Mulia Habib Umar bin Hafizh dalam Haul Syekh Abu Bakar bin Salim pada 14 November 2015 yang sampaikan oleh Habib Jindan bin Novel bin Jindan.

Link video: Channel Youtube Majelis Rasulullah

Screenshot_2015-11-19-04-40-03

Ceramah Habib Umar bin Hafizh

dalam Haul Syekh Abu Bakar bin Salim
14 November 2015

 

Alhamdulillah, Allah yang telah mengumpulkan kita dengan anugerah-Nya sehingga kita dapat berkumpul sama-sama untuk menjaring anugerah dan rahmat-Nya. Kita berkumpul dalam rangka mencari ampunan dari Allah taala yang luhur, semata-mata mengharap pendekatan diri kepada Allah taala, yang mana ini merupakan ajaran manusia pilihan Allah swt.

Beliau adalah manusia pilihan Nabi Besar Muhammad saw. Beliaulah Nabi Muhammad yang mengajak kita kepada amalan2 mulia ini. Beliau yang mengajak kita kepada perkara yang luhur ini. Kita digiring dengan taufik dari Allah taala hingga kita dapat berkumpul di tempat ini, orang2 yang berasal dari beragam wilayah, beragam daerah, beragam negeri.

Tujuan utama kita adalah Allah. Yang kita cari adalah ridha-Nya Allah. Itu merupakan puncak yang ada di dunia ini yang patut kita gapai sebab pencarian kepada selain Allah adalah sebuah cacat, sebuah aib, sebuah kekurangan.

Continue reading

Tagged , , , , , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.